Dulu , rumah ini penuh dengan kebahgiaan.
Ia tak akan lupa bagaimana suara tawa ayah. Setiap malam pasti ada ayah yang duduk di kursi sambil menonton televisi. Ayah juga yang mengusap rambutnya di malam hari.
mengapa hari itu ayah pergi tanpa pamit.
"Ayah mengapa engkau begitu cepat meninggalkan kita , diriku ini masih perlu kasih sayang mu "
Setelah ayah pergi ,Kini aku akui rumah mulai terasa sunyi, kini televisi sudah tak engkau nyalakan lagi ,dan sekarang tak ada lagi yang mengusap rambut ku di malam hari.
ku kira semuanya sudah selesai tapi ternyata belum.
2 Minggu setelah kepergian ayah ,ibu jatuh sakit.
Saat aku mulai menghitung uang yang tersisa di dompet ibu ku. Hanya Sedikit , sedikit untuk keperluan rumah , dan bahkan tak cukup untuk biaya sekolah.
Karna biaya ia tak bisa melanjutkan pendidikan nya
Setiap kali seseorang bertanya apakah dia baik-baik saja. Ia tak ,menjawab tapi hanya tersenyum.
Nyatanya setiap kali ia menutup pintu kamarnya , ia psti menangis sampai sesak.
Tak ada yang tau bahwa di balik senyum manis nya ,ia sedang berjuang untuk , menjadi kuat karna tak ada pilihan lain.
Hingga suatu hari , sebuah surat datang.
Penerimaan beasiswa : keyla lodrian
Untuk pertama kalinya dari sekian lama nya ia tersenyum , karna kebahagian bukan karna ingin menyembunyikan kesedihannya .
Pikirnya dunia masih memberi kesempatan untuk Dirinya.
Disekolah baru itu. Ia bertemu dengan hayra tasmya , seorang wanita yang baik , pintar , hayra ini berasal dari keluarga yang jauh berbeda dari keyla , dan juga hayra dikenel cukup ta‘at pada agamanya.
Awalnya mereka hanya saling mengenal , lama kelamaan mereka menjadi dekat.
Hayra bukan sakedar teman yang sering berbicara dikelas. Tapi ia selalu ada saat keyla membutuhkan bantuan .
Suatu hari , hayra mengetahui kondisi keluarga keyla , hayra tau ayah keyla telah meninggal , ibu nya telah jatuh sakit , dan keyla juga masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saat mengetahui hal itu , hayra diam - diam memberikan uang setiap bulan.
Keyla sempat setuju. Tetapi hayra selalu berkata bahwa semua ini bukan karna rasa kasihan ,tapi karna rasa kepedulian seorang teman
Suatu sore , keyla dan hayra sedang berjalan-jalan di taman. Saat sedang berbincang terdengar suara azan yang berkumandang , hayra yang mendengar langsung pergi ke masjid terdekat.
Saat sampai keyla bertanya apakah dia boleh masuk masjid , hayra menjawab Sambil tersenyum "boleh."
Keyla pun mengikutinya , entah mengapa saat ya pertama kali nya melangkah kan kaki nya untuk masuk ke dalam masjid , hati nya begitu tenang.
Setelah sholat. Keyla diam sambil mendengar seorang ustadz yang membacakan dakwah. Ia tak memahami semuanya , tetapi ada kalimat yang terasa sedang berbicara kepada nya.
Tetang manusia yang boleh merasa lelah,
Tentang do‘a ang tak akan sia-sia ,
Dan tentang Tuhan yang selalu dekat dengan hambanya .
Untuk pertama kalinya ia merasa sangat tenang.
Dalam perjalanan pulang ia terus terpikir kalimat yang di katakan tadi. Akhirnya keyla berkata kepada hayra
"Hayra , aku juga pengen punya tuhan seperti Tuhan mu."
Hayra terdiam sejenak , dan berkata dengan lembut
"Apa benar kalin ingin mengenal agama ku ?"
Keyla mengangguk. "Entah mengapa saat aku berada di dalam tempat ibadah mu aku merasa sangat tenang ,perasaan itu ingin kurasakan lagi."
Hayra tak memaksanya , ia hanya berkata "ya sudah kalau begitu , besok kita bertemu lagi disini."
Keesokan hari nya , mereka kembali bertemu di tempat yang sama. Hayra mengajari cara berwudhu , tata cara sholat , dan juga beberapa doa-doa sederhana.
Awalnya memang terdengar asing tapi lama kelamaan keyla mulai terbiasa.
Namun keyla masih khawatir dengan kondisi ibu nya yang tak lekas sembuh.
Malam itu setelah sholat , keyla bersujud lebih lama dari biasanya. Air mata jatuh membasahi sajadah ,"Ya Allah... Jika engkau Memeng mendengar do‘a ku , sembuhkan lah ibu ku. Ayah ku telah tiada , kini hanya dia kaluarga ku . Kumohon tuhan ku.".
Tiga hari kemudian ibu akhirnya sembuh.
saat subuh ,keyla pergi ke masjid seorang diri . Setelah sholat , ia duduk diam sambil menatap ujung sajadah.
Air matanya perlahan jatuh kembali , tetapi kali ini bukan karna kesedihan. Keyla tersenyum kecil dan berbisik ."Terima kasih... Allah."
Keyla akhirnya mengerti. Tuhan tak menjanjikan bahwa hidup akan selalu mudah.
Namun , tuhan memberikan tempat untuk menangis ,
berdo‘a , dan tempat kembali di saat dunia terasa berat.
Keyla mengusap air matanya , lalu tersenyum. "Jadi , ini rasanya memiliki tuhan."
By : Nadhira Ramadhani